Nama : Erwin Assor
Kelas : Tan
1 b
SEJARAH
PENDIDIKAN ISLAM NASIONAL
Lahirnya
agama Islam di bawah oleh Rasulullah SAW, pada abad ke-7 M, menimbulkan suatu
tenaga penggerak yang luar biasa, yang pernah dialami oleh umat manusia. Islam
merupakan gerakan raksasa yang telah berjalan sepanjang zaman dalam pertumbuhan
dan perkembangannya.
Masuk
dan berkembangnya Islam ke Indonesia dipandang dari segi historis dan
sosiologis sangat kompleks dan terdapat banyak masalah terutama tentang sejarah
perkembangan awal Islam ada perbedaan antara pendapat lama dan pendapat baru.
Pendapat lama sepakat bahwa Islam masuk ke Indonesia abad ke-13 M dan pendapat
baru menyatakan bahwa Islam pertama kali
masuk ke Indonesia pada abad ke 7 M. (A. Mustofa Abdullah,1999:23).
Namun yang pasti hamper semua ahli sejarah menyatakan bahwa daerah Indonesia
yang mula-mula di masuki Islam adalah daerah Aceh (A. Mustofa Abdullah :1983).
Datangnya
Islam ke Indonesia dilakukan secara damai, dapat dilihat melalui jalur perdagangan,
dakwah, perkawinan,ajaran tasawuf dan tarekat, serta jalur kesenian dan
pendidikan yang semuanya mendukung proses cepatnya Islam masuk dan berkembang
di Indonesia. Kegiatan Islam di Aceh lahir, tumbuh dan berkembang bersamaan
dengan tumbuhnya Islam di Aceh. Konversi massal masyarakat kepada Islam pada
masa perdagangan disebabkan oleh Islam merupakan agama yang siap pakai,
asosiasi Islam dengan kejayaan, kejayaan militer Islam, mengajarkan tulisan dan
hapalan, kepandaian dalam penyembuhan dan pengajaran tentang moral. (Musrifah,
2005:20).
Konversi
massal masyarakat kepada Islam pada masa kerajaan Islam di Aceh tidak lepas
dari pengaruh penguasa kerajaan serta peran ulama dan pujangga. Aceh menjadi
pusat pengkajian Islam sejak zaman sultan Malik Az-Zahir berkuasa, dengan
adanya system pendidikan informal berupa khalaqoh , yang ada kelanjutannya
menjadi system pendidikan formal. dalam konteks
inilah pemakalah akan membahas tentang pusat pengkajian Islam pada masa
kerajaan Islam dengan membatasi wilayah bahasan di daerah Aceh, dengan batasan masalah pengertian pendidikan Islam,
masuk dan berkembangnya Islam di Aceh, Dan pusat pengkajian Islam pada masa
tiga kerajaan Islam di Aceh.
B.
PEMBAHASAN
Pendidikan
Islam
Secara
etimologis pendidikan diterjemahkan ke dalam bahasa Arab “tarbiyah” dengan kata kerjanya “robba”
yang berarti mengasuh, mendidik, dan memelihara (Zakiyah Drajat, 1996:25).
Menurut pendapat ahli, Ki Hajar Dewantara pendidikan adalah tuntutan didalam hidup
tumbuhnya anak-anak, maksudnya pendidikan adalah menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada
anak-anak itu, agar mereka sebagai manusia dan anggota masyarakat dapat
mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya. (Hasbullah,
2001:4).
Pendidikan
adalah segala usaha orang dewasa dalam
pergaulan dengan anak-anak untuk memimpin perkembangan jasmani dan rohaninya ke
arah kedewasaan. (Ngalim Purwanto,1995:11). HM Arifin menyatakan, pendidikan
secara teoritis mengandung pengertian “memberi makan”ke pada jiwa anak didik
sehingga mendapat kepuasan rohaniyah, juga sering diartikan dengan menumbuhkan
kemampuan dasar manusia (HM Arifin, 2003:22).
usaha
dasar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran
agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki
kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, serta ketrampilan yang
diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan Negara (UU Sisdiknas, No 20 Th2003).
Pendidikan
memang sangat berguna bagi setiap individu. Jadi, pendidikan merupakan suatu
proses belajar mengajar yang membiasakan warga masyarakat sedini mungkin
menggali, memahami, dan mengamalkan semua nilai yang disepakati sebagai nilai
terpuji dan dikehendaki, serta berguna bagi kehidupan dan perkembangan pribadi,
masyarakat, bangsa dan Negara.
Pendidikan
Islam menurut Zakiyah Drajat merupakan pendidikan yang lebih banyak ditujukan
kepada perbaikan sikap mental yang akan terwujud dalam amal perbuatan, baik
bagi keperluan diri sendiri maupun orang lain yang bersifat teoritis dan
praktis. (Zakiyah Drajat, 1996:25).
Dengan
demikian, pendidikan Islam berarti proses bimbingan dari pendidik terhadap
perkembangan jasmani, rohani, dan akal peserta didik kearah terbentuknya
pribadi muslim yang baik (Insan Kamil).
Pusat
keunggulan pengkajian Islam pada masa kerajaan Islam di Aceh
a.
Masuk dan berkembangnya Islam di Aceh.
Hampir
semua ahli sejarah menyatakan bahwa daerah Indonesi yang mula-mula di masuki Islam
adalah daerah Aceh.(Taufik Abdullah, 1983:4). Berdasarkan kesimpulan seminar
tentang masuknya Islam ke Indonesia yang berlangsung di Medan pada tanggal
17-20 Maret 1963, yaitu :
Ø Islam
untuk pertama kalinya telah masuk ke Indonesia pada abad ke-7 M dan berlangsung
dari Arab.
Ø Daerah
yang pertama kali didatangi oleh Islam adalah pesisir Sumatera, adapun kerajaan
Islam yang pertama adalah di Pasai.
Ø Dalam
proses pengIslaman selanjutnya orang-orang Islam di Indonesia ikut aktif
mengambil peranan dan proses penyiaran Islam dilakukan secara damai.
Ø Keterangan
Islam di Indonesia, ikut mencerdaskan rakyat dan membawa peradaban yang tinggi
dalam membentuk kepribadian bangsa Indonesia (Taufik Abdullah,1983:5).
Masuknya
Islam ke Indonesia ada yang mengatakan dari India, Persia, atau dari Arab.(Musrifah,
2005:10-11). Dan jalur yang digunakan adalah:
a. Perdagangan, yang mempergunakan
sarana pelayaran.
b. Dakwah, yang dilakukan oleh mubaligh
yang berdatangan bersama para pedagang. Para mubaligh itu bisa dikatakan
sebagai sufi pengembara.
c. Perkawinan, yaitu perkawinan
antara pedagang muslim , mubaligh dengan anak bangsawan Indonesia, yang
menyebabkan terbentuknya inti social yaitu keluarga muslim dan masyarakat
muslim.
d. Pendidikan, pusat-pusat perekonomian itu
berkembang menjadi pusat pendidikan dan penyebaran Islam.
e. Kesenian, jalur yang banyak
sekali dipakai untuk penyebaran Islam terutama di jawa adalah seni.
Bentuk agama Islam itu
sendiri mempercepat penyebaran agama Islam, apalagi sebelum masuk ke Indonesia
telah tersebar terlebih dahulu ke daerah-daerah Persia dan India, dimana kedua
daerah ini banyak memberi pengaruh pada perkembangan kebudayaan Indonesia dalam
perkembangan agama Islam di daerah Aceh, peranan mubaligh sangat besar karena
mubaligh tersebut tidak hanya berasal dari Arab tetapi juga dari Persia, India,
dan juga dari negeri sendiri.
Ada dua factor penting yang
menyebabkan masyarakat Islam mudah berkembang di Aceh, yaitu:
1.
Letaknya sangat strategis dalam hubungannya
dengan jalur timur tengah dan tiongkok
2.
Pengaruh Hindu-Budha dari kerajaan Sriwijaya
di Palembang tidak begitu berakar kuat dikalangan rakyat Aceh, karena jarak
antara Palembang dan Aceh cukup jauh. (A Mustofa, Abdullah, 1999:53).
Sedangkan Hasbullah mengutip
pendapat Prof. Muhammad Yunus, memperinci factor-faktor yang menyebabkan Islam
dapat cepat tersebar di seluruh Indonesia . (Hasbullah, 2001:19-20), antara
lain :
a.
Agama Islam tidak sempit dan berat melakukan
aturan-aturannya, bahkan mudah ditiru oleh segala golongan umat manusia, bahkan
untuk masuk agama Islam saja cukup dengan mengucap dua kalimat syahadat saja.
b.
Sedikit tugas dan kewajiban Islam
c.
Penyiaran Islam dilakukan dengan cara
berangsur-angsur sedikit demi sedikit
d.
Penyiaran Islam dilakukan dengan cara
bijaksana
e.
Penyiaran Islam dilakukan dengan perkataan yang
mudah dipahami umum, dapat dimegerti oleh golongan bawah dan golongan atas.
Konversi massal masyarakat Nusantara
kepada Islam pada masa perdagangan terjadi karena beberapa sebab,
(Musrifah,2005:20-21) yaitu:
1.
Portilitas
(siap pakai) system keimanan Islam
2.
Asosiasi Islam dengan kekayaan,
Ketika penduduk pribumi Nusantara bertemu dan berinteraksi dengan orang muslim
pendatang di pelabuhan, mereka adalah pedagang yang kaya raya. Karena kekayaan
dan kekuatan ekonomi, mereka bisa memainkan peranan penting dalam bidang
politik dan diplomatic.
3.
Kejayaan militer,
orang muslim dipandang perkasa dan tangguh dalam peperangan.
4.
Memperkenalkan tulisan,
agama Islam memperkenalkan tulisan ke berbagai wilayah Asia Tenggara dan
sebagian besar belum mengenal tulisan.
5.
Mengajarkan penghapalan Al’Quran,
hapalan menjadi sangat penting bagi penganut baru, khususnya untuk kepentingan
ibadah seperti shalat.
6.
Kepandaian dalam penyembuhan,
tradisi tentang konversi kepada Islam berhubungan dengan kepercayaan bahwa
tokoh-tokoh Islam pandai menyembuhkan. Sebagai contoh Raja Patani menjadi
muslim setelah disembuhkan dari penyakitnya oleh seorang syaikh dari Pasai.
7.
Pengajaran tentang moral, Islam
menawarkan keselamatan dari berbagai kekuatan jahat dan kebahagiaan di akherat
kelak.
Melalui factor-faktor dan
sebab-sebab tersebut Islam cepat tersebar diseluruh Nusantara sehingga pada
gilirannya nanti menjadi agama utama dan mayoritas di negeri ini.
b.
Pusat keunggulan pengkajian Islam pada
tiga kerajaan Islam di Aceh.
1.
Jaman
kerajaan samudera Pasai
Kerajan Islam pertama d
Indonesia adalah kerajaan samudra Pasai , yang didirikan pada abad ke-10 M
dengan raja pertamanya Malik Ibrahim bin Mahdum. Yang kedua bernama Al-Malik
Al-Shaleh dan yang terakhir bernama Al-Malik Sabar Syah (tahun 1444 M/abad ke
15 H). (Mustofa Abdullah,1999:54).
Pada tahun 1435, Ibnu
Batutah Dari Maroko, sempat singgah di kerajaan Pasai pada zaman Pemerintahan
Malik Al-Zahir, raja yang terkenal alim dalam ilmu agama dan bermazhab Syafi’i,
mengadakan pengajian sampai waktu Shalat Ashar dan fasih berbahasa Arab serta
mempraktekkan pola hidup yang sederhana. (Zuhaerini , et al,2000:135).
Keterangan Ibnu Batutah
tersebut dapat ditarik kesimpulan pendidikan yang berlaku di zaman kerajaan Pasai sebagai berikut :
a.
Materi pendidikan dan pengajaran agama bidang
syari’at adalah fiqh mazhab syafi’i
b.
System pendidikannya secara informal berupa
majlis ta’lim dan khalaqoh.
c.
Tokoh pemerintahan merangkap tokoh agama
d.
Biaya pendidikan bersumber dari Negara. (Zuhaerani,
et.al, 2000:136).
Pada
zaman kerajaan samudra Pasai mencapai kejayaannya pada abad ke-14 M, maka
pendidikan juga tentu mendapat tempat tersendiri. Mengutip keterangan Tome
Pires, yang menyatakan bahwa “di samudra Pasai terdapat banyak kota, dimana
antar warga kota tersebut terdapat orang-orang berpendidikan”. (M Ibrahim,
et.al, 1991:61).
Menurut
Ibnu Batutah juga, Pasai pada abad ke-14 M, sudah merupakan pusat studi Islam
di Asia Tenggara, dan banyak berkumpul ulama-ulama dari Negara Islam. Ibnu
Batutah menyatakan bahwa sultan Malikul Zahir adalah orang yang cinta kepada
para ulama dan ilmu pengetahuan. Bila hari jum’at tiba, sultan sembahyang di
mesjid memakai pakaian ulama, setelah sembahyang mengadakan diskusi dengan para
alim pengetahuan agama, antara lain: Amir Abdullah dari Delhi dan Tajudin dari
Ispahan. Bentuk pendidikan dengan cara diskusi disebut majlis ta’lim atau
Halaqoh. System Halaqoh yaitu para murid mengambil posisi melingkari guru. Guru
duduk di tengah-tengah lingkaran murid dengan posisi seluruh wajah murid
menghadap guru.
2.
Kerajaan
Perlak
Kerajaan Islam kedua di
Indonesia adalah Perlak di Aceh. Rajanya yang pertama adalah Sultan Alaudin
(tahun 1161-1186 H/abad 12 M). antara Pasai dan Perlak terjalin kerja sama yang
baik sehingga seorang raja Pasai menikah dengan seorang Putri raja Perlak. Perlak
merupakan daerah yang terletak sangat strategis di pantai selat Malaka, dan
bebas dari pengaruh Hindu. (Hasbullah, 2001:29). Kerajaan Islam Perlak juga
memiliki pusat pendidikan Islam Dayah Cot Kala. Dayah disamakan dengan
perguruan tinggi, materi yang diajarkan yaitu bahasa Arab, Tauhid, Tasawwuf,
Akhlak, Ilmu Bumi, Ilmu Bahasa, Dan Sastra Arab, Sejarah Dan Tata Negara,
Mantiq, Ilmu Falaq, Dan Filsafat.
Daerahnya kira-kira dekat Aceh timur
sekarang. Pendirinya adalah Ulama Pangeran Teungku Chik M Amin, pada akhir abad
ke-3 H, abad 10 M inilah pusat pendidikan pertama. Rajanya yang ke-6 bernama
sultan Mahdum Alaudin Muhammad Amin yang memerintah antara tahun 1243-1267 M,
terkenal sebagai seorang sultan yang arif, bijaksana lagi alim. Beliau adalah
seorang ulama yang mendirikan perguruan tinggi Islam yaitu suatu majlis ta’lim
tinggi di hadiri khusus oleh para murid yang sudah alim. Lembaga tersebut juga
mengajarkan dan membacakan kitab-kitab agama yang berbobot pengetahuan tinggi,
misalnya kitab Al-Umm karangan imam Safi’I (A Mustofa Abdullah, 1995:54)
Dengan demikian pada kerajaan
Perlak ini proses pendidikan Islam telah berjalan cukup baik.
3.
Kerajaan
Aceh Darussalam
Proklamasi kerajaan Aceh
Darussalam adalah hasil peleburan kerajaan Islam Aceh di belahan barat dan
kerajaan Islam samudra Pasai di belahan timur. Putra Sultan Abidin Syamsu Syah diangkat
menjadi raja dengan sultan Alaudin Ali Mughayat Syah (1507-1522 M).
Bentuk teritorial yang
terkecil dari susunan pemerinyahan kerajaan Aceh adalah gampong (kampung) yang
dikepalai oleh seorang keucik dan waki (wakil). Gampong-gampong yang letaknya
berdekatan dan penduduknya melakukan ibadah bersama pada hari jum’at di sebuah
mesjid merupakan suatu kekuasaan wilayah yang disebut mukmim, yang memegang
peranan pimpinan mukmim disebut imeum mukmim (M Ibrahim et.al, 1991:75).
Jenjang p endidikan yang ada di kerajaan Aceh
Darussalam diawali pendidikan terendah meunasah (madrasah) yang berarti tempat
belajar atau sekolah terdapat di setiap gampong dan mempunyai multi fungsi
antara lain :
Ø Sebagai
tempat belajar Al-Qur’an
Ø sebagai
sekolah dasar, dengan materi yang diajarkan yaitu menulis dan membaca huruf Arab,
ilmu agama, bahasa melayu, akhlak, dan sejarah Islam.
Fungsi lainnya adalah
sebagai berikut :
Ø Sebagai
tempat ibadah sholat 5 waktu untuk gampong itu
Ø Sebagai
tempat ibadah Sholat Tarawih dan tempat membaca Al’Quran di bulan puasa.
Ø Tempat
Kenduri Maulud Dan Bulan Mauludan.
Ø Tempat
Menyerahkan Zakat Fitrah Pada Hari Menjelang Idul Fitri Atau Bulan Puasa.
Ø Tempat
mengadakan perdamaian bila terjadi sengketa antara anggota kampong.
Ø Tempat
bermusyawarah dalam segala urusan.
Ø Letak
Meunasah Harus Berbeda Dengan Letak Rumah, Supaya Orang Segera Dapat Mengetahui
Mana Yang Rumah Atau Meunasah Dan Mengetahui Arah Kiblat Sholat. (M Ibrahim,
1991:76).
Selanjutnya
system pendidikan di Dayah (Pesantren) seperti meunasah tetapi materi yang
diajarkan adalah kitab Nahu yang diartikan kitab yang didalam bahasa Arab
meskipun arti Nahu sendiri adalah tata bahasa (Arab). Dayah biasanya dekat
mesjid, meskipun ada juga di dekat teungku yang memiliki Dayah itu sendiri
terutama Dayah yang tingkat pelajarannya sudah tinggi. Oleh karena itu orang
yang ignin belajar Nahu itu tidak dapat belajar Sambilan, untuk itu mereka
harus memilih Dayah yang agak jauh sedikit dari kampungnya dan tinggal di Dayah
tersebut disebut Maudagang. Di Dayah telah tersedia pondok-pondok kecil memuat
dua orang tiap rumah. Dalam buku karangan Hasbullah, sejarah pendidikan Islam
di Indonesia, istilah Rangkang merupakan Madrasah setingkat Tsanawiyah, materi
yang diajarkan yaitu bahasa Arab, ilmu bumi, sejarah, berhitung, dan akhlak.
Rangkang juga diselenggarakan di setiap mukim. (Hasbullah, 2001:32).
Bidang
pendidikan di kerajaan Aceh Darussalam benar-benar menjadi perhatian. Pada saat
itu terdapat lembaga-lembaga Negara yang bertugas dalam bidang pendidikan dan
ilmu pengetahuan yaitu :
1.
Balai Seutia Hukama, merupakan lembaga ilmu
pengetahuan, tempat berkumpulnya para ulama, ahli piker dan cendikiawan untuk
membahas dan mengembangkan ilmu pengetahuan.
2.
Balai Seutia Ulama, merupakan jawatan
pendidikan yang bertugas mengurus masalah-masalah pendidikan dan pengajaran.
3.
Balai Jama’ah Himpunan Ulama, merupakan
kelompok studi tempat para ulama dan para sarjana berkumpul untuk bertukar
pikiran membahas persoalan pendidikan dan ilmu pendidikannya.
Aceh
pada saat itu merupakan sumber ilmu pengetahuan dengan sarjana-sarjananya yang
terkenal di dalam dan luar negeri. Sehingga banyak orang luar datang ke Aceh
untuk menuntut ilmu, bahkan ibukota Aceh Darussalam berkembang menjadi kota Internasional
dan menjadi pusat perkembangan ilmu pengetahuan.
Kerajaan
Aceh telah menjalin suatu hubungan persahabatan dengan kerajaan Islam Terkemuka
Di Timur Tengah Yaitu Kerajaan Turki. Pada masa itu banyak pula ulama dan
pujangga-pujangga dari berbagai negeri Islam yang datang ke Aceh. Para ulama
dan pujangga ini mengajarkan ilmu agama Islam (theology Islam) dan berbagai
ilmu pengetahuan serta menulis bermacam-macam kitab berisi ajaran agama.
Karenanya pengajaran agama Islam di Aceh menjadi penting dan Aceh menjadi
kerajaan Islam yang kuat di Nusantara. Diantara para ulama dan pujangga yang
pernah datang di kerajaan Aceh antara lain Muhammad Azhari yang mengajar Ilmu
Metafisika, Syekh Abdul Khair Ibn Syekh Khajar Ahli Dalam Bidang Progmatik Dan
Mistik, Muhammad Yamani Ahli Dalam Bidang Ilmu Usul Fiqh Dan Syekh Muhammad Jailani
Ibn Hasan Yang Mengajar Logika (M Ibrahin, et.al, 1991:88).
Tokoh
pendidikan agama Islam lainnya yang berada di kerajaan Aceh adalah Hamzah
Fansuri. Ia merupakan seorang pujangga dan guru agama yang terkenal dengan
ajaran Tasawwuf yang beraliran Wujudiyah. Diantara karya-karya Hamzah Fansuri
adalah Asrar Al’aufin, Syarab Al Asyikin , dan Zuiat Al-Nuwahidin. Sebagai
seorang pujangga ia menghasilkan karya-karya, syair si burung pungguk, syair
perahu.
Ulama
penting lainnya adalah Syamsuddin As-Samathrani atau lebih dikenal dengan Syamsuddin
Pasai. Ia adalah murid dari Hamzah Fansuri
yang mengembangkan paham wujudiyah di Aceh. Kitab yang ditulis ,Mir’atul
Al’Qulub, Miratul Mukmin dan lainnya. Ulama dan pujangga lain yang pernah datang
di kerajaan Aceh ialah Syekh Nuruddin Ar-Raniri. Ia menentang paham Wujudiyah
dan menulis banyak kitab mengenai agama Islam dalam bahasa Arab maupun melayu klasik.
Kitab yang terbesar dan tertinggi mutu dalam kesustraan melayu kalsik dan
berisi tentang sejarah kerajaan Aceh adalah kitab Bustanul Salatin. Pada masa
kejayaan kerajaan Aceh , masa Sultan Iskandar Muda (1607-1636) oleh Sultannya
banyak didirikan Mesjid sebagai tempat beribadah umat Islam, salah satu mesjid
yang terkenal Masjid Baitul Rahman yang juga dijadikan sebagai perguruan tinggi
dan mempunyai 17 daars (fakultas).
Dengan
melihat banyak para ulama dan pujangga yang dating ke Aceh, serta adanya perguruan
tinggi maka dapat dipastikan bahwa kerajaan Aceh menjadi pusat studi Islam.
Karena factor agama Islam merupakan merupakan salah satu factor yang sangat
mempengaruhi kehidupan masyarakat Aceh pada periode berikutnya. Menurut BJ
Boland, bahwa seorang Aceh adalah seorang Islam. (M Ibrahim, et.al, 1991:89)
c. Kesimpulan
Pendidikan merupakan suatu
proses belajar mengajar yang membiasakan kepada warga masyarakat sedini mungkin
untuk menggali, memahami dan mengamalkan semua nilai yang disepakati sebagai
nilai yang terpujikan dan dikehendaki serta berguna bagi kehidupan dan perkembangan
diri pribadi, masyarakat, bangsa dan Negara. Pendidikan Islam sendiri adalah
proses bimbingan terhadap peserta didik ke arah terbentuknya pribadi muslim
yang baik (Insan Kamil).
Keberhasilan dan kemajuan
pendidikan di masa kerajaan Islam di Aceh tidak terlepas dari pengaruh sultan
yang berkuasa dan peran para ulama serta pujangga, baik dari luar maupun
setempat, seperti peran tokoh pendidikan Hamzah Fansuri, Syamsuddin As-Sumatrani
dan Syekh Nuruddin Al-Raniri yang menghasilkan karya-karya besar sehingga
menjadikan Aceh sebagai pusat pengkajian Islam.
DAFTAR
PUSTAKA
Abdul, Taufik. Ed. Agama Dan
Perubahan Sosial, Jakarta : CV Rajawali 1983
Arifin HM, Ilmu Pendidikan Islam,
Jakarta : Bumi Aksara 2003
Drajat,Zakiyah, Ilmu
Pendidikan Islam Jakarta : Bumi Aksara 1996
Gunawan, Ari H, Sosiologi
Pendidikan, Jakarta : PT Rineka Cipta 2000
Hasbullah, Sejarah
Pendidikan Islam Di Indonesia, Jakarta : PT Raja Grafindo Persada 2001,Cet-4
Ibrahim M, et.al, Sejarah
Daerah Propinsi Daerah Istimewa Aceh, Jakarta : CV Tumaritis 1991, Cet-2
Mustofa A Ali Abdullah,
Sejarah Pendidikan Islam Di Indonesia, Untuk Fakultas Tarbiyah, Bandung : Cv
Pustaka Setia 1999.
Purwanto M Ngalim, Ilmu
Pendidikan Teoritis, Bandung : Pt Remaja Rosdakarya 1992
Redaksi Penerbit Aksa
Mandiri, Standar Nasional Pendidikan (NSP) Jakarta : Asa Mandiri 2006
Sunanto Musrifah, Sejarah
Peradaban Islam Indonesia, Jakarta : Pt Raja Grafindo Persada 2005
Tafsir Ahmad, Sumbangan Islam
Kepada Ilmu Dan Kebudayaan, Bandung : Pustaka 1986
Yatim Badri, Sejarah
Peradaban Islam, Madrasah Islamiyah II, Jakarta : PT Raja Grafindo Persada 1993
Zuharini, et.al, Sejarah
Pendidikan Islam, Jakarta : PT Bumi Aksara 2000, Set 6.






0 komentar:
Posting Komentar