Minggu, 08 Januari 2012


Nama : Erwin Assor
Kelas  : Tan 1 b  
SEJARAH PENDIDIKAN ISLAM NASIONAL

Lahirnya agama Islam di bawah oleh Rasulullah SAW, pada abad ke-7 M, menimbulkan suatu tenaga penggerak yang luar biasa, yang pernah dialami oleh umat manusia. Islam merupakan gerakan raksasa yang telah berjalan sepanjang zaman dalam pertumbuhan dan perkembangannya.
Masuk dan berkembangnya Islam ke Indonesia dipandang dari segi historis dan sosiologis sangat kompleks dan terdapat banyak masalah terutama tentang sejarah perkembangan awal Islam ada perbedaan antara pendapat lama dan pendapat baru. Pendapat lama sepakat bahwa Islam masuk ke Indonesia abad ke-13 M dan pendapat baru menyatakan bahwa Islam pertama kali  masuk ke Indonesia pada abad ke 7 M. (A. Mustofa Abdullah,1999:23). Namun yang pasti hamper semua ahli sejarah menyatakan bahwa daerah Indonesia yang mula-mula di masuki Islam adalah daerah Aceh (A. Mustofa Abdullah :1983).
Datangnya Islam ke Indonesia dilakukan secara damai, dapat dilihat melalui jalur perdagangan, dakwah, perkawinan,ajaran tasawuf dan tarekat, serta jalur kesenian dan pendidikan yang semuanya mendukung proses cepatnya Islam masuk dan berkembang di Indonesia. Kegiatan Islam di Aceh lahir, tumbuh dan berkembang bersamaan dengan tumbuhnya Islam di Aceh. Konversi massal masyarakat kepada Islam pada masa perdagangan disebabkan oleh Islam merupakan agama yang siap pakai, asosiasi Islam dengan kejayaan, kejayaan militer Islam, mengajarkan tulisan dan hapalan, kepandaian dalam penyembuhan dan pengajaran tentang moral. (Musrifah, 2005:20).
Konversi massal masyarakat kepada Islam pada masa kerajaan Islam di Aceh tidak lepas dari pengaruh penguasa kerajaan serta peran ulama dan pujangga. Aceh menjadi pusat pengkajian Islam sejak zaman sultan Malik Az-Zahir berkuasa, dengan adanya system pendidikan informal berupa khalaqoh , yang ada kelanjutannya menjadi system pendidikan formal. dalam konteks  inilah pemakalah akan membahas tentang pusat pengkajian Islam pada masa kerajaan Islam dengan membatasi wilayah bahasan di daerah Aceh,  dengan batasan masalah pengertian pendidikan Islam, masuk dan berkembangnya Islam di Aceh, Dan pusat pengkajian Islam pada masa tiga kerajaan Islam di Aceh.

B. PEMBAHASAN
Pendidikan Islam
Secara etimologis pendidikan diterjemahkan ke dalam bahasa Arab “tarbiyah” dengan kata kerjanya “robba” yang berarti mengasuh, mendidik, dan memelihara (Zakiyah Drajat, 1996:25). Menurut pendapat ahli, Ki Hajar Dewantara pendidikan adalah tuntutan didalam hidup tumbuhnya anak-anak, maksudnya pendidikan adalah menuntun  segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak itu, agar mereka sebagai manusia dan anggota masyarakat dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya. (Hasbullah, 2001:4).
Pendidikan adalah segala usaha orang dewasa  dalam pergaulan dengan anak-anak untuk memimpin perkembangan jasmani dan rohaninya ke arah kedewasaan. (Ngalim Purwanto,1995:11). HM Arifin menyatakan, pendidikan secara teoritis mengandung pengertian “memberi makan”ke pada jiwa anak didik sehingga mendapat kepuasan rohaniyah, juga sering diartikan dengan menumbuhkan kemampuan dasar manusia (HM Arifin, 2003:22).
usaha dasar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, serta ketrampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan Negara (UU Sisdiknas, No 20 Th2003).
Pendidikan memang sangat berguna bagi setiap individu. Jadi, pendidikan merupakan suatu proses belajar mengajar yang membiasakan warga masyarakat sedini mungkin menggali, memahami, dan mengamalkan semua nilai yang disepakati sebagai nilai terpuji dan dikehendaki, serta berguna bagi kehidupan dan perkembangan pribadi, masyarakat, bangsa dan Negara.
Pendidikan Islam menurut Zakiyah Drajat merupakan pendidikan yang lebih banyak ditujukan kepada perbaikan sikap mental yang akan terwujud dalam amal perbuatan, baik bagi keperluan diri sendiri maupun orang lain yang bersifat teoritis dan praktis. (Zakiyah Drajat, 1996:25).
Dengan demikian, pendidikan Islam berarti proses bimbingan dari pendidik terhadap perkembangan jasmani, rohani, dan akal peserta didik kearah terbentuknya pribadi muslim yang baik (Insan Kamil).


Pusat keunggulan pengkajian Islam pada masa kerajaan Islam di Aceh
a.    Masuk dan berkembangnya Islam di Aceh.
Hampir semua ahli sejarah menyatakan bahwa daerah Indonesi yang mula-mula di masuki Islam adalah daerah Aceh.(Taufik Abdullah, 1983:4). Berdasarkan kesimpulan seminar tentang masuknya Islam ke Indonesia yang berlangsung di Medan pada tanggal 17-20 Maret 1963, yaitu :
Ø  Islam untuk pertama kalinya telah masuk ke Indonesia pada abad ke-7 M dan berlangsung dari Arab.
Ø  Daerah yang pertama kali didatangi oleh Islam adalah pesisir Sumatera, adapun kerajaan Islam yang pertama adalah di Pasai.
Ø  Dalam proses pengIslaman selanjutnya orang-orang Islam di Indonesia ikut aktif mengambil peranan dan proses penyiaran Islam dilakukan secara damai.
Ø  Keterangan Islam di Indonesia, ikut mencerdaskan rakyat dan membawa peradaban yang tinggi dalam membentuk kepribadian bangsa Indonesia (Taufik Abdullah,1983:5).

Masuknya Islam ke Indonesia ada yang mengatakan dari India, Persia, atau dari Arab.(Musrifah, 2005:10-11). Dan jalur yang digunakan adalah:
a.    Perdagangan, yang mempergunakan sarana pelayaran.
b.    Dakwah, yang dilakukan oleh mubaligh yang berdatangan bersama para pedagang. Para mubaligh itu bisa dikatakan sebagai sufi pengembara.
c.    Perkawinan, yaitu perkawinan antara pedagang muslim , mubaligh dengan anak bangsawan Indonesia, yang menyebabkan terbentuknya inti social yaitu keluarga muslim dan masyarakat muslim.
d.    Pendidikan, pusat-pusat perekonomian itu berkembang menjadi pusat pendidikan dan penyebaran Islam.
e.    Kesenian, jalur yang banyak sekali dipakai untuk penyebaran Islam terutama di jawa adalah seni.
Bentuk agama Islam itu sendiri mempercepat penyebaran agama Islam, apalagi sebelum masuk ke Indonesia telah tersebar terlebih dahulu ke daerah-daerah Persia dan India, dimana kedua daerah ini banyak memberi pengaruh pada perkembangan kebudayaan Indonesia dalam perkembangan agama Islam di daerah Aceh, peranan mubaligh sangat besar karena mubaligh tersebut tidak hanya berasal dari Arab tetapi juga dari Persia, India, dan juga dari negeri sendiri.

Ada dua factor penting yang menyebabkan masyarakat Islam mudah berkembang di Aceh, yaitu:
1.    Letaknya sangat strategis dalam hubungannya dengan jalur timur tengah dan tiongkok
2.    Pengaruh Hindu-Budha dari kerajaan Sriwijaya di Palembang tidak begitu berakar kuat dikalangan rakyat Aceh, karena jarak antara Palembang dan Aceh cukup jauh. (A Mustofa, Abdullah, 1999:53).
Sedangkan Hasbullah mengutip pendapat Prof. Muhammad Yunus, memperinci factor-faktor yang menyebabkan Islam dapat cepat tersebar di seluruh Indonesia . (Hasbullah, 2001:19-20), antara lain :
a.    Agama Islam tidak sempit dan berat melakukan aturan-aturannya, bahkan mudah ditiru oleh segala golongan umat manusia, bahkan untuk masuk agama Islam saja cukup dengan mengucap dua kalimat syahadat saja.
b.    Sedikit tugas dan kewajiban Islam
c.    Penyiaran Islam dilakukan dengan cara berangsur-angsur sedikit demi sedikit
d.    Penyiaran Islam dilakukan dengan cara bijaksana
e.    Penyiaran Islam dilakukan dengan perkataan yang mudah dipahami umum, dapat dimegerti oleh golongan bawah dan golongan atas.

Konversi massal masyarakat Nusantara kepada Islam pada masa perdagangan terjadi karena beberapa sebab, (Musrifah,2005:20-21) yaitu:
1.    Portilitas (siap pakai) system keimanan Islam
2.    Asosiasi Islam dengan kekayaan, Ketika penduduk pribumi Nusantara bertemu dan berinteraksi dengan orang muslim pendatang di pelabuhan, mereka adalah pedagang yang kaya raya. Karena kekayaan dan kekuatan ekonomi, mereka bisa memainkan peranan penting dalam bidang politik dan diplomatic.
3.    Kejayaan militer, orang muslim dipandang perkasa dan tangguh dalam peperangan.
4.    Memperkenalkan tulisan, agama Islam memperkenalkan tulisan ke berbagai wilayah Asia Tenggara dan sebagian besar belum mengenal tulisan.
5.    Mengajarkan penghapalan Al’Quran, hapalan menjadi sangat penting bagi penganut baru, khususnya untuk kepentingan ibadah seperti shalat.
6.    Kepandaian dalam penyembuhan, tradisi tentang konversi kepada Islam berhubungan dengan kepercayaan bahwa tokoh-tokoh Islam pandai menyembuhkan. Sebagai contoh Raja Patani menjadi muslim setelah disembuhkan dari penyakitnya oleh seorang syaikh dari Pasai.
7.    Pengajaran tentang moral, Islam menawarkan keselamatan dari berbagai kekuatan jahat dan kebahagiaan di akherat kelak.

Melalui factor-faktor dan sebab-sebab tersebut Islam cepat tersebar diseluruh Nusantara sehingga pada gilirannya nanti menjadi agama utama dan mayoritas di negeri ini.

b.    Pusat keunggulan pengkajian Islam pada tiga kerajaan Islam di Aceh.
1.    Jaman kerajaan samudera Pasai
Kerajan Islam pertama d Indonesia adalah kerajaan samudra Pasai , yang didirikan pada abad ke-10 M dengan raja pertamanya Malik Ibrahim bin Mahdum. Yang kedua bernama Al-Malik Al-Shaleh dan yang terakhir bernama Al-Malik Sabar Syah (tahun 1444 M/abad ke 15 H). (Mustofa Abdullah,1999:54).
Pada tahun 1435, Ibnu Batutah Dari Maroko, sempat singgah di kerajaan Pasai pada zaman Pemerintahan Malik Al-Zahir, raja yang terkenal alim dalam ilmu agama dan bermazhab Syafi’i, mengadakan pengajian sampai waktu Shalat Ashar dan fasih berbahasa Arab serta mempraktekkan pola hidup yang sederhana. (Zuhaerini , et al,2000:135).
Keterangan Ibnu Batutah tersebut dapat ditarik kesimpulan pendidikan yang berlaku di  zaman kerajaan Pasai sebagai berikut :
a.    Materi pendidikan dan pengajaran agama bidang syari’at adalah fiqh mazhab syafi’i
b.    System pendidikannya secara informal berupa majlis ta’lim dan khalaqoh.
c.    Tokoh pemerintahan merangkap tokoh agama
d.    Biaya pendidikan bersumber dari Negara. (Zuhaerani, et.al, 2000:136).

Pada zaman kerajaan samudra Pasai mencapai kejayaannya pada abad ke-14 M, maka pendidikan juga tentu mendapat tempat tersendiri. Mengutip keterangan Tome Pires, yang menyatakan bahwa “di samudra Pasai terdapat banyak kota, dimana antar warga kota tersebut terdapat orang-orang berpendidikan”. (M Ibrahim, et.al, 1991:61).
Menurut Ibnu Batutah juga, Pasai pada abad ke-14 M, sudah merupakan pusat studi Islam di Asia Tenggara, dan banyak berkumpul ulama-ulama dari Negara Islam. Ibnu Batutah menyatakan bahwa sultan Malikul Zahir adalah orang yang cinta kepada para ulama dan ilmu pengetahuan. Bila hari jum’at tiba, sultan sembahyang di mesjid memakai pakaian ulama, setelah sembahyang mengadakan diskusi dengan para alim pengetahuan agama, antara lain: Amir Abdullah dari Delhi dan Tajudin dari Ispahan. Bentuk pendidikan dengan cara diskusi disebut majlis ta’lim atau Halaqoh. System Halaqoh yaitu para murid mengambil posisi melingkari guru. Guru duduk di tengah-tengah lingkaran murid dengan posisi seluruh wajah murid menghadap guru.

2.    Kerajaan Perlak
Kerajaan Islam kedua di Indonesia adalah Perlak di Aceh. Rajanya yang pertama adalah Sultan Alaudin (tahun 1161-1186 H/abad 12 M). antara Pasai dan Perlak terjalin kerja sama yang baik sehingga seorang raja Pasai menikah dengan seorang Putri raja Perlak. Perlak merupakan daerah yang terletak sangat strategis di pantai selat Malaka, dan bebas dari pengaruh Hindu. (Hasbullah, 2001:29). Kerajaan Islam Perlak juga memiliki pusat pendidikan Islam Dayah Cot Kala. Dayah disamakan dengan perguruan tinggi, materi yang diajarkan yaitu bahasa Arab, Tauhid, Tasawwuf, Akhlak, Ilmu Bumi, Ilmu Bahasa, Dan Sastra Arab, Sejarah Dan Tata Negara, Mantiq, Ilmu Falaq, Dan Filsafat.
Daerahnya kira-kira dekat Aceh timur sekarang. Pendirinya adalah Ulama Pangeran Teungku Chik M Amin, pada akhir abad ke-3 H, abad 10 M inilah pusat pendidikan pertama. Rajanya yang ke-6 bernama sultan Mahdum Alaudin Muhammad Amin yang memerintah antara tahun 1243-1267 M, terkenal sebagai seorang sultan yang arif, bijaksana lagi alim. Beliau adalah seorang ulama yang mendirikan perguruan tinggi Islam yaitu suatu majlis ta’lim tinggi di hadiri khusus oleh para murid yang sudah alim. Lembaga tersebut juga mengajarkan dan membacakan kitab-kitab agama yang berbobot pengetahuan tinggi, misalnya kitab Al-Umm karangan imam Safi’I (A Mustofa Abdullah, 1995:54)
Dengan demikian pada kerajaan Perlak ini proses pendidikan Islam telah berjalan cukup baik.

3.    Kerajaan Aceh Darussalam
Proklamasi kerajaan Aceh Darussalam adalah hasil peleburan kerajaan Islam Aceh di belahan barat dan kerajaan Islam samudra Pasai di belahan timur. Putra Sultan Abidin Syamsu Syah diangkat menjadi raja dengan sultan Alaudin Ali Mughayat Syah (1507-1522 M).
Bentuk teritorial yang terkecil dari susunan pemerinyahan kerajaan Aceh adalah gampong (kampung) yang dikepalai oleh seorang keucik dan waki (wakil). Gampong-gampong yang letaknya berdekatan dan penduduknya melakukan ibadah bersama pada hari jum’at di sebuah mesjid merupakan suatu kekuasaan wilayah yang disebut mukmim, yang memegang peranan pimpinan mukmim disebut imeum mukmim (M Ibrahim et.al, 1991:75).
Jenjang p            endidikan yang ada di kerajaan Aceh Darussalam diawali pendidikan terendah meunasah (madrasah) yang berarti tempat belajar atau sekolah terdapat di setiap gampong dan mempunyai multi fungsi antara lain :
Ø Sebagai tempat belajar Al-Qur’an
Ø sebagai sekolah dasar, dengan materi yang diajarkan yaitu menulis dan membaca huruf Arab, ilmu agama, bahasa melayu, akhlak, dan sejarah Islam.
Fungsi lainnya adalah sebagai berikut :
Ø  Sebagai tempat ibadah sholat 5 waktu untuk gampong itu
Ø  Sebagai tempat ibadah Sholat Tarawih dan tempat membaca Al’Quran di bulan puasa.
Ø  Tempat Kenduri Maulud Dan Bulan Mauludan.
Ø  Tempat Menyerahkan Zakat Fitrah Pada Hari Menjelang Idul Fitri Atau Bulan Puasa.
Ø  Tempat mengadakan perdamaian bila terjadi sengketa antara anggota kampong.
Ø  Tempat bermusyawarah dalam segala urusan.
Ø  Letak Meunasah Harus Berbeda Dengan Letak Rumah, Supaya Orang Segera Dapat Mengetahui Mana Yang Rumah Atau Meunasah Dan Mengetahui Arah Kiblat Sholat. (M Ibrahim, 1991:76).
Selanjutnya system pendidikan di Dayah (Pesantren) seperti meunasah tetapi materi yang diajarkan adalah kitab Nahu yang diartikan kitab yang didalam bahasa Arab meskipun arti Nahu sendiri adalah tata bahasa (Arab). Dayah biasanya dekat mesjid, meskipun ada juga di dekat teungku yang memiliki Dayah itu sendiri terutama Dayah yang tingkat pelajarannya sudah tinggi. Oleh karena itu orang yang ignin belajar Nahu itu tidak dapat belajar Sambilan, untuk itu mereka harus memilih Dayah yang agak jauh sedikit dari kampungnya dan tinggal di Dayah tersebut disebut Maudagang. Di Dayah telah tersedia pondok-pondok kecil memuat dua orang tiap rumah. Dalam buku karangan Hasbullah, sejarah pendidikan Islam di Indonesia, istilah Rangkang merupakan Madrasah setingkat Tsanawiyah, materi yang diajarkan yaitu bahasa Arab, ilmu bumi, sejarah, berhitung, dan akhlak. Rangkang juga diselenggarakan di setiap mukim. (Hasbullah, 2001:32).
Bidang pendidikan di kerajaan Aceh Darussalam benar-benar menjadi perhatian. Pada saat itu terdapat lembaga-lembaga Negara yang bertugas dalam bidang pendidikan dan ilmu pengetahuan yaitu :
1.    Balai Seutia Hukama, merupakan lembaga ilmu pengetahuan, tempat berkumpulnya para ulama, ahli piker dan cendikiawan untuk membahas dan mengembangkan ilmu pengetahuan.
2.    Balai Seutia Ulama, merupakan jawatan pendidikan yang bertugas mengurus masalah-masalah pendidikan dan pengajaran.
3.    Balai Jama’ah Himpunan Ulama, merupakan kelompok studi tempat para ulama dan para sarjana berkumpul untuk bertukar pikiran membahas persoalan pendidikan dan ilmu pendidikannya.
Aceh pada saat itu merupakan sumber ilmu pengetahuan dengan sarjana-sarjananya yang terkenal di dalam dan luar negeri. Sehingga banyak orang luar datang ke Aceh untuk menuntut ilmu, bahkan ibukota Aceh Darussalam berkembang menjadi kota Internasional dan menjadi pusat perkembangan ilmu pengetahuan.
Kerajaan Aceh telah menjalin suatu hubungan persahabatan dengan kerajaan Islam Terkemuka Di Timur Tengah Yaitu Kerajaan Turki. Pada masa itu banyak pula ulama dan pujangga-pujangga dari berbagai negeri Islam yang datang ke Aceh. Para ulama dan pujangga ini mengajarkan ilmu agama Islam (theology Islam) dan berbagai ilmu pengetahuan serta menulis bermacam-macam kitab berisi ajaran agama. Karenanya pengajaran agama Islam di Aceh menjadi penting dan Aceh menjadi kerajaan Islam yang kuat di Nusantara. Diantara para ulama dan pujangga yang pernah datang di kerajaan Aceh antara lain Muhammad Azhari yang mengajar Ilmu Metafisika, Syekh Abdul Khair Ibn Syekh Khajar Ahli Dalam Bidang Progmatik Dan Mistik, Muhammad Yamani Ahli Dalam Bidang Ilmu Usul Fiqh Dan Syekh Muhammad Jailani Ibn Hasan Yang Mengajar Logika (M Ibrahin, et.al, 1991:88).
Tokoh pendidikan agama Islam lainnya yang berada di kerajaan Aceh adalah Hamzah Fansuri. Ia merupakan seorang pujangga dan guru agama yang terkenal dengan ajaran Tasawwuf yang beraliran Wujudiyah. Diantara karya-karya Hamzah Fansuri adalah Asrar Al’aufin, Syarab Al Asyikin , dan Zuiat Al-Nuwahidin. Sebagai seorang pujangga ia menghasilkan karya-karya, syair si burung pungguk, syair perahu.
Ulama penting lainnya adalah Syamsuddin As-Samathrani atau lebih dikenal dengan Syamsuddin Pasai. Ia adalah murid dari Hamzah Fansuri  yang mengembangkan paham wujudiyah di Aceh. Kitab yang ditulis ,Mir’atul Al’Qulub, Miratul Mukmin dan lainnya. Ulama dan pujangga lain yang pernah datang di kerajaan Aceh ialah Syekh Nuruddin Ar-Raniri. Ia menentang paham Wujudiyah dan menulis banyak kitab mengenai agama Islam dalam bahasa Arab maupun melayu klasik. Kitab yang terbesar dan tertinggi mutu dalam kesustraan melayu kalsik dan berisi tentang sejarah kerajaan Aceh adalah kitab Bustanul Salatin. Pada masa kejayaan kerajaan Aceh , masa Sultan Iskandar Muda (1607-1636) oleh Sultannya banyak didirikan Mesjid sebagai tempat beribadah umat Islam, salah satu mesjid yang terkenal Masjid Baitul Rahman yang juga dijadikan sebagai perguruan tinggi dan mempunyai 17 daars (fakultas).
Dengan melihat banyak para ulama dan pujangga yang dating ke Aceh, serta adanya perguruan tinggi maka dapat dipastikan bahwa kerajaan Aceh menjadi pusat studi Islam. Karena factor agama Islam merupakan merupakan salah satu factor yang sangat mempengaruhi kehidupan masyarakat Aceh pada periode berikutnya. Menurut BJ Boland, bahwa seorang Aceh adalah seorang Islam. (M Ibrahim, et.al, 1991:89)

c.   Kesimpulan
Pendidikan merupakan suatu proses belajar mengajar yang membiasakan kepada warga masyarakat sedini mungkin untuk menggali, memahami dan mengamalkan semua nilai yang disepakati sebagai nilai yang terpujikan dan dikehendaki serta berguna bagi kehidupan dan perkembangan diri pribadi, masyarakat, bangsa dan Negara. Pendidikan Islam sendiri adalah proses bimbingan terhadap peserta didik ke arah terbentuknya pribadi muslim yang baik (Insan Kamil).
Keberhasilan dan kemajuan pendidikan di masa kerajaan Islam di Aceh tidak terlepas dari pengaruh sultan yang berkuasa dan peran para ulama serta pujangga, baik dari luar maupun setempat, seperti peran tokoh pendidikan Hamzah Fansuri, Syamsuddin As-Sumatrani dan Syekh Nuruddin Al-Raniri yang menghasilkan karya-karya besar sehingga menjadikan Aceh sebagai pusat pengkajian Islam.

DAFTAR PUSTAKA

Abdul, Taufik. Ed. Agama Dan Perubahan Sosial, Jakarta : CV Rajawali 1983
Arifin HM, Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta : Bumi Aksara 2003
Drajat,Zakiyah, Ilmu Pendidikan Islam Jakarta : Bumi Aksara 1996
Gunawan, Ari H, Sosiologi Pendidikan, Jakarta : PT Rineka Cipta 2000
Hasbullah, Sejarah Pendidikan Islam Di Indonesia, Jakarta : PT Raja Grafindo Persada 2001,Cet-4
Ibrahim M, et.al, Sejarah Daerah Propinsi Daerah Istimewa Aceh, Jakarta : CV Tumaritis 1991, Cet-2
Mustofa A Ali Abdullah, Sejarah Pendidikan Islam Di Indonesia, Untuk Fakultas Tarbiyah, Bandung : Cv Pustaka Setia 1999.
Purwanto M Ngalim, Ilmu Pendidikan Teoritis, Bandung : Pt Remaja Rosdakarya 1992
Redaksi Penerbit Aksa Mandiri, Standar Nasional Pendidikan (NSP) Jakarta : Asa Mandiri 2006
Sunanto Musrifah, Sejarah Peradaban Islam Indonesia, Jakarta : Pt Raja Grafindo Persada 2005
Tafsir Ahmad, Sumbangan Islam Kepada Ilmu Dan Kebudayaan, Bandung : Pustaka 1986
Yatim Badri, Sejarah Peradaban Islam, Madrasah Islamiyah II, Jakarta : PT Raja Grafindo Persada 1993
Zuharini, et.al, Sejarah Pendidikan Islam, Jakarta : PT Bumi Aksara 2000, Set 6.






 

0 komentar:

Posting Komentar

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites